Statistik

Online: 0
Visits today: 30
Total visits: 27902

[Awan dan Burung Kecil] Anugrah Milikku

Awan melayang pelan, menjaga beban-bebannya agar tak pecah membasahi bumi. Karena, burung kecil mungkin akan mengira ia menangis. Meski duka itu sudah begitu menyakitkan dan ingin ia muntahkan. Awan terus bergerak pelan, memberi keteduhan penduduk bumi, sambil mencari-cari siluet burung kecil. “Kau di mana, teman kecilku?”

Burung kecil masih sibuk mengukir dedaunan dengan pena ranting-ranting patah. Gemerlap embun di bawahnya menjadi lampion yang menemaninya, memberi semangat di kala ia tak mengerti kata-kata yang ia torehkan sendiri.

Selengkapnya…

Karena Waktu Kita Tak Cukup

Karena waktu kita tak cukup,

Maka jalani semuanya dengan seimbang

Karena peluang kita terbatas,

Maka pada-Nya senantiasalah kita bertanya

Karena pandangan kita sempit

Maka lipat gandakan mawas dan siaga

#SuatuPagiKetikaPilihanHarusDijatuhkan

Salawat Tarhim

Saudaraku,

tentang hari-hari itu,

Ketika kita memandang langit

Sementara matahari ditelan samudera

Hening langit terbelah syahdu salawat tarhim

Di kota kecil kita

Yang kini tak lagi teduh

Rimbun pepohonan asam berganti tiang beton

Saudaraku,

aku tersesat dalam pulangku

mencarimu

Meski tak kujumpa kalian

Semoga

Senja kita masih sama

Dalam salawat tarhim

Memandang langit yang sama

Memeluk kerinduan yang sama:

Selengkapnya…

KERJA DI BAGIAN ARSIP

Di antara tugas ibu adalah bekerja di bagian “arsip”. Kalau dulu buku rapor hanya satu, sederhana, sekarang tiap semester berlembar-lembar, terlepas-lepas pula. Masing-masing guru mencetak bagiannya dan dikumpulkan jadi satu.

Usai mengulik-ulik foto-foto masa kecil anak-anak, teringat pula protes salah seorang dari mereka: kok sekarang mama sudah jarah memotret?

Jawab: karena kalian sudah bisa memotret sendiri.

Masih ditanya lagi, “…tapi kalau kami yang memotret, kami gak ada di foto itu kan?”

Zaman millenium begini

Selengkapnya…

[Awan dan Burung Kecil] Sampai di Mana Kelanamu?

Tiba-tiba saja, awan semakin mendung, menyadari burung kecil telah pergi begitu jauh. Entah di belahan, bujur atau lintang bumi mana ia telah hinggap. “Sampai di mana kelanamu, wahai teman kecilku?” tulis Awan di bongkahan-bongkahan kapas yang tak lagi putih, tapi menjadi kelam keabuan.

Burung kecil sedang mendongak ke langit, hanya terpaut sepenggalan waktu duha dari bongkahan kelabu di mana pesan Awan terpahat.


Burung kecil tertawa kecil. “Aku, ya, aku, telah mengitari tiga perempat jarak yang

Selengkapnya…

Dimensi Salam dalam Islam

Seorang kawan menanyakan lafaz ungkapan salam dan balasannya yang paling tepat di antara beberapa pilihan.

Ungkapan salam dapat berupa:

(1) assalam(u) ‘alaykum

(2) assalam ‘alaykum

(3) ‘alaykum salam,

(4) ‘alaykumussalam

Adapun balasan salam, sebenarnya sama saja dengan di atas, hanya ditambah huruf وَ wa, artinya dan.

Selengkapnya…

Pilihan dan Akad

Seorang kawan meminta pendapat tentang bagaimana mereka memutuskan pilihan kelanjutan studi anak mereka. Anak-anak mereka tergolong cerdas di atas rata-rata. Anak pertama sudah melanjutkan studi di luar negeri dengan beasiswa. Anak kedua, di usia yang masih dua tahun lebih muda dari usia rata-rata anak SMA kelas 3, mendapat beasiswa lanjut kuliah di luar negeri juga.

Masalah muncul ketika hasil SNMPTN dipublikasikan: anak kedua ini juga lulus SNMPTN di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Yang puluhan kalau

Selengkapnya…

KASIHAN. KASIHAN?

حسبنا الله

Seorang kawan berkata, “Kasihan temanku. Dia dianggap salah mengawal fatwa MUI. Itu bukan hukum negara.”

“Terus?”

“Ya… karirnya gak bisa maju lagi tuh biasanya. Sudah ditandai.”

“Allah di belakangnya. Barangsiapa menolong agama Allah ta’ala maka Allah pasti menolongnya. Memangnya kenapa dengan karir di sana…”

“Tapi kan… dia kepala rumah tangga.”

“Rezeki dan kedudukan itu dari Allah taala. Ia berikan pada sesiapa saja yang Ia kehendaki, tanpa ada yang bisa menghalangi atau mengurangi. Yang kasihan itu adalah mereka yang menyembah sesama manusia demi

Selengkapnya…

Bershawalawat Bersama Supir Taksi

Kami berenam, memutuskan untuk melaksanakan tawaf ifadhah duluan. Tidak mengikuti jadwal rombongan. Ketua rombongan membolehkan, asal bisa mandiri, tidak minta ditemani.

Saat berangkat, kami dipermudah Allah ta’ala mendapatkan supir yang mengerti bahasa fushah, bahasa formal, bahasa buku. Sehingga, pembicaraan dengannya bisa lancar. Setelah berbincang beberapa hal, seorang kawan bilang, “Tanyain, apa pekerjaannya. Ini kan cuma taksi omprengan.” Sang supir lalu menjelaskan, ia adalah seorang guru. Pantas saja pintar. Meski bukan guru bahasa. Guru olahraga.

Saya jadi

Selengkapnya…

Kepedulian Terhadap Bahasa Arab, Belajar dari Bangsa Cina

Ada beberapa hal menarik yang bisa kita temukan saat beriteraksi dengan pedagang-pedagang keturunan Cina. Pertama, biasanya yang menangani langsung toko itu adalah pemilik atau wakilnya. Suami atau istrinya-kah, kakak, adik, atau anaknya. Kadang-kadang ada pegawainya dari kalangan pribumi, tapi tugasnya hanya sebatas yang bersifat teknis. Kedua, sering kali mereka berdiskusi dalam Bahasa Cina sebelum memutuskan sesuatu. Seakan-akan ada pesan yang tak terucapkan, “Kami punya bahasa yang tidak kalian mengerti. Bahasa nenek-buyut kami.”
Selengkapnya…

Page 1 of 1812345»10...Last »