Statistik

Online: 0
Visits today: 0
Total visits: 39925

Merindu Rindu

أشيقة الغروب

Burung kecil hinggap di pelepah pohon kelapa. Dipetiknya satu lembar daun kelapa, lalu ia torehkan sebuah catatan harian di sana:

Aku sudah mengitari satu putaran bumi, seperti janjiku dulu padamu, Awan.
Perjalanan yang menyampaikanku pada satu titik: pemenuhan janji adalah sekaligus saat perpisahan denganmu.
Tak mengapa. Setiap titik rindu menghadirkan semacam keberkahan. Bahkan setiap kerinduan pada
rindu itu sendiri.

Kau tahu, langit itu selalu dikehendaki Sang Maha agar bersih tanpa cela. Karena pada kebersihannyalah, rindu

Selengkapnya…

Awan dan Burung Kecil: Hablur

مهما أرسب

Engkau tahu, saatnya menghablur tiba, Awan.

Aku mengerti. Udara telah pengap dan mendungmu telah pekat.

Telah kau ingatkan aku tentang ini, saat pertama kau jatuhkan hujan di sahara

Tidak mengapa, pergilah.

Bukankah langit tanpamu tetap dijadikan-Nya indah.

Pada waktunya aku akan kembali melihat bintang.

### Cipayung, 6 Maret 2015. MTF. عند المرض

#Awan dan Burung Kecil: Sebuah Karya, Untukmu

silence is living

“Aku telah mengumpulkan dedaunan dan ranting terbaik,” tulis Burung Kecil, paruhnya mendongak ke langit. Langit yang biru, bersih tanpa Awan. “Aku berjanji untuk merangkainya menjadi sebuah payung terindah. Payung yang akan menampung hujanmu, Awan,” Burung Kecil melanjutkan diarinya, tersenyum kecil.

“Engkau sedang lelap di pangkuan negeri yang berkah? Aku terjaga dalam semangat yang aku tak tahu datang dari mana…,” gumam Burung Kecil, masih memandang langit yang sepi.

“Aku

Selengkapnya…

#Awan dan Burung Kecil : Hangat

Pleasure of Giving nesia@2007

Awan, hari ini cerah sekali. Meski engkau begitu gigih memayungi bumi. Menghalangi matahari dan teriknya. Aku senang terbang di antara lembah dan rimba, karena hangat mendungmu melebihi terik mentari.

Terima kasih.

Burung kecil memahat diarinya di selembar daun.

Hanya sebuah istirahat sejenak sebelum ia teruskan perjalanannya, mengitari bumi.

#Bogor, 28/11/14

#Awan dan Burung Kecil: Bentangan Jarak

taman bunga, @ofuna 2009

Sudah sampai mana kepak sayap membawamu pergi, wahai burung kecil? Lirih Awan.

Burung kecil tetap saja melaju membelah udara, melintasi samudera, rimba dan lembah.

Ia tak mendengar lirih Awan. Meski Awan terus mengamatinya dari angkasa, berusaha memayunginya diam-diam.

Burung kecil berteduh di sebuah ranting.

Hujan deras dijatuhkan Awan.

“Kau menangis, Awan?” Gumam Burung Kecil.

“Kuharap kau berhenti menangis.

Selengkapnya…

#Awan dan Burung Kecil# Tada, Mitsukatta

anaa shoodiqun fiy kalaamiy

Awan menjadikan dirinya semakin jenuh oleh uap air. Biarkan saja, katanya, biarkan uap air ini berkumpul di tubuhku, agar jika waktunya aku ingin menangis, aku bisa menangis. Ia menatap nanar pada burung kecil yang mulai mengepakkan sayap, menjauh menuju silau matahari.

Burung kecil mengepakkan sayapnya dengan cepat. Tak ingin berbalik ke belakang. Yang ditujunya hanya satu, mengitari bumi dengan cepat, agar bisa kembali ke titik awalnya. Sebelum awan berhablur menjadi hujan

Selengkapnya…

#Burung Kecil dan Awan: Sembunyi

Teman Kecilku

Burung kecil terpekur di antara ranting

Mencoba sembunyi dari kejaran awan

Nafasnya menderu, paruhnya tak bisa terkatup

Dengan apa aku harus sembunyi darimu, Awan?

Lirihnya

Sedangkan dedaunan meranggas

Dan rantingpun tak suka aku hinggapi

Dan kau, Awan, memayungi bumi

Di manapun aku terbang

Selengkapnya…

#Awan dan Burung Kecil: Biarkan

Langit Senja Jakarta nesia@2010

Aku, tak ingin memaksamu menurunkan hujan.

Meski ku tahu, uap air itu sudah menjenuhkan tubuhmu, Awan.

Menghalangi gerakmu menaungi bumi demi bumi.

Yang pepohonannya telah menengadah memohon tetes, rintik pun deras darimu.

Aku, mengerti.

Semua pemaksaan itu tak berakhir baik.

Jadi biarkan saja.


Selengkapnya…

#Burung Kecil & Mendung: Titik Terbaik

Berjalan Sesuai Kehendak-Nya

Mendung memandang Burung Kecil yang terbang riang di bawahnya. Pada akhirnya, ia menyadari semua terjadi sebagaimana Tuhan menghendakinya. Seperti Ia menghendaki hujan lahir dari dirinya, ataukah ketika Ia berkehendak mencegah hujan itu lahir. Tubuhnya akan menguap dan mempersilakan matahari bersinar sebebas-bebasnya.

“Burung Kecil, katakan padaku, apa yang membuatmu bahagia? Hujan, kah? Cerah, kah?” batin Mendung.

Burung Kecil tak mendengarkan. Bagaimana pula

Selengkapnya…

#Burung Kecil & Mendung --Sebuah Prolog--

Cloudy to Snowy

Saya penyuka puisi. Dan suka bikin puisi. Tapi tak semua puisi saya suka. Tak suka yang cengeng. Tak suka yang, kata orang, lebay atau alay (bedanya apa?). Bahkan saya tidak suka puisi yang terlalu bermain kata-kata indah. Padahal, banyak orang menganggap imej puisi itu adalah dipenuhi bunga kata. Tahukah kamu, kadang terlalu banyak bunga justru membosankan?

Kadang-kadang, seketika saja puisi itu datang melayang-layang di kepala saya. Entah kenapa. Biasanya cuma saya tulis di

Selengkapnya…