Statistik

Online: 0
Visits today: 0
Total visits: 39925

SEBULAN TANPA PRT

Sebulan sudah, kami menjalani hari-hari tanpa pembantu rumah tangga (PRT). Ini bukan yang pertama, sebagaimana catatan saya di sini. Tapi, yang pertama dalam situasi saya sembari kuliah, anak-anak menjelang ujian di sekolah, dan kesibukan kerja suami yang luar biasa meningkat (pulang di atas jam 10 malam, kadang-kadang hari libur pun harus masuk kantor).

Ada saat di mana saya ingin menyerah, terutama, karena di hari-hari awal beradaptasi dengan situasi baru ini, anak-ak juga bergantian sakit. Urusan sakitnya anak mejadi lebih

Selengkapnya…

FASE BARU

“Mama, saya gak tahu caranya bisa salat khusyuk,” keluh si Tengah di usia 10 tahun.

“Perlu mengerti arti bacaan salat.”

“Tapi bagaimana caranya?”

“Hafalkan. Resapi.”

“Terus, kalau begitu, jadi khusyuk?”

“Yah… setidaknya lebih dekat pada khusyuk. Bisa serasa lagi curhat sama Allah. ‘Wahai Allah, tunjuki aku jalan yang benar…, Wahai Allah, Dzat-Mu-lah yang Maha Suci…’, sambil mengatakan itu, kita adukan segala permasalahan kita. Keinginan kita, ketakutan kita, harapan kita.”

Tatapan Si Tengah menyiratkan pertanyaan dan kebingungan yang lebih jauh.

Mendadak saya sadar, Si Tengah bukan anak

Selengkapnya…

Cuma Di-edit

Ke asrama

Si Tengah menceritakan tentang pengalamannya melihat iklan pengobatan kulit yang, katanya, “Ketahuan bohongnya”.

“Masak Ma, latar belakang ‘before’ dan ‘after’-nya sama?”
“Maksudmu?”
“Foto sebelum diobati, wajahnya tuh banyak jerawatnya. Latar belakangnya pasar. Eeeeh… Untuk foto setelah diobati, kan wajahnya jadi cakep tuh, mulus, gak ada jerawatnya. Tapi latarnya tetap sama. Pasar. Huaaa hahaha…”
“Loh, apa masalahnya kalo difoto di tempat yang sama?”
“Yah, Mama. Masak orang-orang di pasarnya, warna bajunya, tempatnya berdiri, semua sama? Huahahaha…. mana mungkin waktu pemotretannya beda, latar belakang

Selengkapnya…

Dua Ibu di Tempat Kursus

belajar berhitung di rumah

Saat sedang menunggui anak-anak kursus, seorang ibu masuk mengantar anaknya. Dia lalu duduk di sebelah saya. Rupanya, ibu ini sudah kenal baik dengan beberapa ibu lainnya. Mereka lalu ngobrol panjang lebar, sementara saya tetap diam tak ikut campur.

Ibu yang baru masuk itu mengeluhkan anaknya yang tidak menjawab beberapa soal ujian akhir Bahasa Inggrisnya di sekolah.

“Gemeees banget. Padahal gampang. Tahu kan Bu, sekarang anak-anak… Nilai beda nol komaaa saja, udah pengaruh banget…”

Saya

Selengkapnya…

Menulis: Di Jepang v.s. Di Jakarta

Transportasi Publik: Mempengaruhi Produktifitas

Salah seorang kawan menanyakan, “…bgmn cr mbk nesia merangkum semua detil yg mbk tulis???sementara mbk kan jg sibuk mengasuh 3 org ank dan suami plus belajar bhs jepang…??”

Ingin menjawab langsung di comment, tapi sepertinya kepanjangan. Jadi, lanjut di sini saja.

Setelah kurang lebih setahun tinggal di Jakarta, saya menyadari bahwa waktu primer lebih banyak saat di Jepang. Berikut beberapa gaya hidup di Jepang yang rasanya justru membuat hidup/waktu lebih berkualitas:

1. Tidak ada pembantu.

Semua pekerjaan

Selengkapnya…

Kecebong?

Curious Girl

Beberapa waktu yang lalu, saya mendatangi pelatih renang ekstra-kurikulur Didi di arena kolam renang.
Pasalnya, minggu lalu, kata Didi, guru tersebut ngajar sambil marah-marah sampai mengatakan Didi mirip kecebong kalau berenang.

“Tolong Bu, kalau mengajar anak-anak itu, lebih lembut, lah. Sampai ngatain anak kecebong begitu, apa gunanya? Apa anak jadi pintar dengan diejek begitu?”

Yang bersangkutan berubah roman wajahnya. Sekarang mungkin tidak enak, di guru tersebut, di saya juga. Tapi, semoga membawa kebaikan di masa

Selengkapnya…

Japanese Language Proficiency Test a la Jakarta

4 Desember 2011, saya berkesempatan mengikuti ujian Japanese Language Proficiency Test di Jakarta. Ini pengalaman pertama. Test ini dilaksanakan pada hari yang sama di seluruh dunia, setahun dua kali: Juli dan Desember. Test pengukuran kemampuan Bahasa Jepang. Entah 4 atau 6 kali saya ikuti waktu di Jepang, dari level 3, 2 dan 1. Saat itu, level ujian cuma ada 4, yang terendah level 4 dan tertinggi level 1. Sejak tahun lalu, jadi 5 level.

Yang menarik dari pengalaman mengikuti JLPT

Selengkapnya…

Jakarta, Singapura, Manila

Akhir November 2011, kami berkesempatan untuk mengunjungi Filipina.

Saat tiba di NAIA (Ninoy Aquino International Airport), saya merasakan bahwa Soekarno Hatta International Airport (dikenal dunia dengan singkatan SHIA, di Indonesia: Soetta) jauh lebih bagus. Namun, sebelumnya, kami transit di Changi-Singapura. Dari segi rapi dan resiknya Changi, terasa bahwa Singapura memang negara yang lebih maju dari Indonesia. Tidak ada kerumunan orang yang terkesan hiruk-pikuk tak beraturan, termasuk porter; juga tak ada perokok yang

Selengkapnya…

Kapan Istirahat?

Sudah seminggu lebih, di rumah tak ada ‘orang luar’ yang membantu menyelesaikan pekerjaan rumah. Orang, yang, lazim disebut Pembantu Rumah Tangga (PRT) atau Asisten Rumah Tangga (ART).  Bagi yang menganggap kedudukan pekerja ini berada di level rendah, mungkin memilih sebutan pertama. Bagi yang menganggapnya tinggi, penting dan perlu dalam perjalanan rumah tangga, mereka ‘menaikkan’ sebutannya jadi yang kedua.

Buat saya sendiri, sebutan itu jadi berbeda bukan karena kepentingan saya pada eksistensi mereka di rumah, tapi dari segi tingkat intelektual

Selengkapnya…