Statistik

Online: 0
Visits today: 0
Total visits: 39925

PENGEN TAMBAH COWOK

We're Sisters

“Uuuh…, masak sih kelas 8 cowoknya nggak nambah…,” keluh Si Sulung tiba-tiba saat kami sarapan berdua. Bapaknya sudah berangkat kantor, dua adiknya sedang di rumah sepupunya.

Saya terdiam mendengarnya. Menunggu kelanjutan kata-katanya. Sepertinya menarik ini. Anak gadisku sudah besar?

“Oooh, ayo dong, cowoknya nambah dong…!” keluhnya lagi sambil mengubah-ubah posisi duduknya mengisyaratkan suasana hati yang tidak nyaman.

Saya masih diam.

“Masak kelas 8 cuma nambah satu doang, cewek pula.”

Saya

Selengkapnya…

ZARIGANI

Namaku Didi nesia@2012

Selama hampir setahun terakhir, peliharaan anak-anak cuma sepasang kura-kura. Padahal, waktu di Jepang, banyak sekali. Ada ikan, udang, kalomang, kura-kura, kelinci, zarigani. Kura-kura yang sudah setahun di rumah, akhirnya kami lepas ke kali dekat kompleks. Pasalnya, kami satu keluarga sangat sibuk hingga tak sempat merawat. Kuatir menzalimi, kami merelakannya bebas.

Kemarin, iseng-iseng saya mampir di penjual tanaman. Usai membeli beberapa tanaman hias, saya ke penjual di sebelahnya. Dari luar memang tampak ada

Selengkapnya…

UJIAN HATI (2)

Banyak Teman nesia@2007

“Mama, sepertinya asyik yah kalau kita pelihara anjing?” sahut Si Tengah tiba-tiba dari meja makan.

“Eh? Kan nggak boleh?”

“Yaa, siapa tahu saja asyik. Di antara semua binatang peliharaan, anjing yang paling pintar loh, Ma!”

“Kalau sudah dilarang dalam agama, itu berarti gak asyik, pasti ada kejelekannya yang mungkin sekarang kita gak tahu.”

“Siapa tahu itu ujian?”

“Ujian?”

“Iya, untuk menguji.”

Saya masih belum bisa meraba arah

Selengkapnya…

UJIAN HATI

a little princess in a park nesia@2007

“Tolong, berhentilah memainkan lagu itu,” kata saya pada Si Sulung yang mamainkan Canon D di keyboard-nya. Hadiah ulang tahunnya yang kedelapan waktu di Jepang. Di SD sana, setiap anak SD diajari membaca not balok dan memainkan beberapa alat musik, setidaknya pianika dan recorder.

“Memangnya kenapa, Mah?”

“Hati Mama lemah mendengarnya.”

“Loh, hati kan tidak boleh lemah?” kata Bapaknya, yang tiba-tiba

Selengkapnya…