Statistik

Online: 0
Visits today: 0
Total visits: 39925

#Awan dan Burung Kecil : Hangat

Pleasure of Giving nesia@2007

Awan, hari ini cerah sekali. Meski engkau begitu gigih memayungi bumi. Menghalangi matahari dan teriknya. Aku senang terbang di antara lembah dan rimba, karena hangat mendungmu melebihi terik mentari.

Terima kasih.

Burung kecil memahat diarinya di selembar daun.

Hanya sebuah istirahat sejenak sebelum ia teruskan perjalanannya, mengitari bumi.

#Bogor, 28/11/14

Kepada Para Pembaca

Tulisan. Di pohon.

Para pembaca yang terhormat dan semoga disayangi Allah ta’ala, wa huwa arrahman arrahiim

Kadang-kadang saya heran kenapa jumlah pembaca senantiasa bertambah. Siapa saja yang suka membaca blog ini?

Saya tidak tahu apa yang kalian inginkan dari blog yang hanya berisi catatan sederhana bahkan catatan curhat sepele sehari-hari. Haha, bahasa majalah, begitu kata salah seorang guru saya yang unik.

Prinsip saya, tulis saja apa yang ingin ditulis.

Selengkapnya…

Ketika Si Mbak Akan Pamit (3)

Siapa Mas-uliyyah?

Hari ini pengajian khadimat terakhir bersama Si Mbak. 2 Desember dia akan berangkat pulang ke desanya, untuk insya Allah melangsungkan pernikahan dengan seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya. Sepertinya kisah lama terulang. Tapi dengan versi berbeda. Saya menolak bertemu dengan calon suami kecuali setelah akad nikah. Dengan keyakinan, bahwa pernikahan termasuk hal yang sudah digariskan Sang Khaliq. Maka, bertemu atau tidak, apakah masalahnya? Semoga pernikahan Si Mbak berjalan lancar dan bisa mewujudkan

Selengkapnya…

Ketika Si Mbak Akan Pamit (2)

Jelang subuh. Nun bertahun silam di Jepang, jelang subuh biasanya saya habiskan di dapur. Menyiapkan sarapan dan bekal anak-anak serta suami. Sambil mendengarkan sesuatu yang pantas didengarkan. Jelang subuh hingga keberangkatan anak-anak ke sekolah dan suami ke kantor adalah waktu yang sangat padat, hingga saya pun kerap terbalik-balik memanggil nama anak-anak. Dan, entah berapa kali kaki saya menaiki dan menuruni tangga…

Di Indonesia, selama 8 bulan saya bertahan dengan ritme itu. Menolak kehadiran seorang khadimat.

Selengkapnya…

Ketika Si Mbak Akan Pamit

my home my office

Kami melaju dengan taksi menuju Bekasi. Ada yang berbeda dalam proses belajar bahasa Arab hari itu. Yang menemani adalah Mbak di rumah. Hari sebelumnya, satu-satunya kawan yang biasa ikut belajar, mengatakan berhalangan. Saya bingung bagaimana caranya belajar sedangkan saya sendirian. Sang Guru mengatakan agar saya mencari kawan yang lain. Tak ada. Maka kemudian Mbak-lah yang saya ajak. Saya tak ingin kehilangan kesempatan belajar, yang memang tak seideal di sekolah bahasa

Selengkapnya…

Mensyukuri Sumber Daya

Si Sulung mengeluh tentang kantuk yang tak tertahankan karena banyak belajar. Tentang bahan ujian yang tak kunjung habis, dan, meski sudah mengerahkan begitu banyak waktu dan energi untuk belajar; hasilnya pun tetap tidak memuaskan.

Saya lalu memberinya sebuah buku yg ditulis Myron H. Dembo dan Helena Seli; Motivation and Learning Strategies for College Success, A Self-Management Approach, yang di antara isinya:

“Banyak pelajar yang berpikir sederhana bahwa mereka akan sukses seiring dengan banyaknya waktu

Selengkapnya…

#Awan dan Burung Kecil: Bentangan Jarak

taman bunga, @ofuna 2009

Sudah sampai mana kepak sayap membawamu pergi, wahai burung kecil? Lirih Awan.

Burung kecil tetap saja melaju membelah udara, melintasi samudera, rimba dan lembah.

Ia tak mendengar lirih Awan. Meski Awan terus mengamatinya dari angkasa, berusaha memayunginya diam-diam.

Burung kecil berteduh di sebuah ranting.

Hujan deras dijatuhkan Awan.

“Kau menangis, Awan?” Gumam Burung Kecil.

“Kuharap kau berhenti menangis.

Selengkapnya…

Tarbiyatul Aulad; Sebuah Cermin

kullukum ra'in mas-uwlun…

Belakangan ini isu-isu untuk membebaskan anak-anak dalam pilihan-pilihannya, semakin santer terdengar. Hingga pernah ada broadcast di medsos bahwa sebaiknya anak-anak itu tidak dididik dengan kata-kata “Jangan”.

Saya ingat saat di Jepang, ada seorang guru bahasa Jepang yang mengatakan bahwa pada masa tersebut, anak-anak di Jepang sudah semakin mundur dari segi sopan santun. Dulu, pada masa ia masih kanak-kanak, jika di dalam kereta ada tempat kosong, maka anak-anak yang harus berdiri

Selengkapnya…

Akhirnya Bisa Menulis Lagi

Hanya Tempat Sementara

Begitulah. Rasanya waktu berjalan begitu cepat dua bulan ini. Pindah rumah, adaptasi dengan kampus baru, menyelesaikan tugas-tugas yang tersisa di kampus lama, dan… anak-anak yang bergantian sakit, menyebabkan saya tak ubahnya seorang pegawai yang multi-job di rumah sakit yang berbeda.

Kampus baru; Alhamdulillah cukup menyenangkan. Hanya saja belum terasa itu rumahku. Rumahku ada di sebuah gang yang terpencil, hanya sebuah gubuk sederhana jika dibandingkan kampus baru ini. Tapi tiap kali

Selengkapnya…