Statistik

Online: 0
Visits today: 0
Total visits: 39925

TEMUAN RAMADAN 1441H

自然と遊ぼう

Jelang sepuluh hari terakhir Ramadan 1441. Ramadan pertama yang kami lalui tidak dengan keluarga lengkap. Si Tengah sudah jadi anak rantau. Meski begitu, ia aktif bercerita dan berdiskusi. Tentang teman-temannya, tentang reaksi-reaksi orang di sekitarnya tentang puasa, tentang telat bangun dan tidak sahur, juga tentang renungan-renungannya.


“Ma, aku Ramadan ini gak ngejar khataman. Aku lebih prioritaskan baca dan merenungi makna yang aku baca.”

“Alhamdulillah, bagus.”

“Ma, setelah lewat lebih separuh Ramadan ini, aku menemukan sesuatu yang menurutku penting banget. Dan temuan ini sepertinya akan terus menguat dan tidak meragukanku sama sekali.”

“Hm…”

“Aku nemuin Ma, bahwa sebenarnya siapapun kita, pada level apapun kita, itu tidak penting. Aku terima nobel kah atau tukang pungut bola saat orang sedang olahraga, itu semua juga tidak penting.”

Saya diam.

“Karena semua orang dilahirkan ke bumi dengan potensi berbeda-beda. Aku tidak menjadi mulia karena menang OSN, misalnya. Karena memang Allah sudah kasi aku jalan bisa itu. Ada orang yang bisa ngerti 5 +5 = 10. Lalu 10 + 5 lagi jadi 15. Tapi otaknya sudah tidak bisa kalau ditanya 15 bagi 3. Sampai di situlah kemampuannya. Dia tidak menjadi lebih rendah daripada pemegang emas olim… Ma? Mama masih denger gak?”

“Ya.”

“Yang membedakan nanti adalah apakah setiap proses ke sana, setelah mendapatkan dan setelahnya, ditujukan untuk ibadah… ditujukan untuk mendekatkan diri dan menyembah Allah taala.”

“Masya Allah.”

“Aku masih ingat Ma, waktu kelas 11… aku tiba-tiba saja gak ngerti bahasa Inggris… Bahkan yang sederhana sekali pun. Serem banget…”

Ya, saya masih ingat itu. Dia menelepon dan menangis malam-malam dan takut kena kanker otak. Besoknya sengaja saya kirimi pesan dalam bahasa Inggris agar dia bersiap-siap dijemput di asrama untuk ke rumah sakit, periksa otak. Dia balas dengan emotikon tertawa, senang karena sudah mengerti isi pesan saya itu.

“…Allah seperti mendadak mencabut pemahamanku begitu saja. Kata Mama waktu itu, periksa hatimu, apa kamu pernah merasa sombong… Aku sih gak ngerasa ya, jujur. Karena di sekolah itu, kami sudah biasa dilempar sana sini dari level bisa jadi sama sekali tidak bisa… Capaian orang sangat dinamis… Tapi mungkin di situ Allah mau ingetin aku, bahwa aku tuh gak bakalan bisa apa-apa kalau bukan Allah yang bisain…”

“Ya, dan kalau kita sudah diberi potensi, dan potensi itu tidak kita optimalkan untuk beribadah kepada Allah, maka kita jadinya kufur nikmat.”

“Bahkan ketika potensi itu dijadikan alasan bersombong dan menjauh dari Allah, jadinya dia malah gagal… gitu Ma kalo menurut aku…”

“Kamu tentu sudah hafal ayat yang sesuai dengan temuan mu itu.”

“Apa Ma.”

“At-Tin. Laqad khalaqnaa ‘l-insaana fii ahsani taqwiim, tsumma radadnaahu asfala saafilin… illalladziina aamanuu wa ‘amiluusshaalihaat… Sungguh telah Allah ciptakan manusia dalam sebaik-sebaik kondisi, lalu mereka dikembalikan ke tempat paling rendah, kecuali yang beriman dan beramal saleh…”

“Ah, iya yah Ma… bener ya, itu ayatnya… Selama ini aku baca gak kepikiran ke sana… Naruhodo! Jadi aku gak perlu kecil hati ya Ma, belajar di sini… Kadang aku mikir apa benar aku di sini bernilai ibadah… Dari sisi mana aku bisa merasa tenang bahwa aku memang sedang ibadah…”

“Iya. Menjadi mandiri dengan memanfaatkan potensi yang diberi Allah, dan sadar sepenuhnya itu pemberian Allah, adalah ibadah. Niat itu sendiri sangat bisa berubah-ubah… karenanya perlu sering diperbarui, bukankah setiap hari kita disuruh shalat dan membaca ikrar-ikrar di dalamnya…” ###

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>