Statistik

Online: 0
Visits today: 0
Total visits: 39925

About

Pelangi menjadi indah karena warnanya tak hanya satu. Karena itulah catatan perjalanan hidup tak perlu dibatasi pada satu tema saja.

Sebagai ibu tiga anak yang kini beranjak dewasa, saya merasakan semakin hari semakin sulit mendidik anak. Terutama karena perkembangan zaman yang kata orang, semakin aneh ini. Yah, namanya juga akhir zaman. Tipuan-tipuan dan jebakannya begitu banyak, sehingga kalau tidak punya bekal cukup, boleh jadi tersesat tapi tidak sadar sudah melenceng dari yang baik atau benar.

Itulah alasan terbesar saya untuk menulis. Sejak dulu. Ada begitu banyak pembelajaran untuk diri saya sendiri saat menuliskan sesuatu. Seakan-akan saya bisa melihat potongan-potongan puzzle menyatu menjadi gambar utuh, sehingga sedikit lebih mudah untuk mendeskripsikannya lebih jauh.

Dale Carnegie punya nasehat: salah satu jalan keluar untuk menyelesaikan suatu masalah adalah dengan menuliskannya. Bukunya saya baca waktu masih SMP. Dan ketika teman saya ulang tahun saat kami sudah kelas 1 SMA, saya menghadiahinya buku itu. Buat saya, buku itu sangat mencerahkan.

Tapi lama-lama, saya menyadari ternyata ada buku lain yang konsepnya jauh lebih utuh dan menyeluruh menjawab semua permasalahan kehidupan. Tentang saran seperti Dale Carnegie itu, menuliskan permasalahan, sebenarnya sudah dikabarkan buku tersebut sejak 14 abad yang lalu. Ya, buku itu bernama Al-Qur’an. Ayat pertamanya, bermakna, “Bacalah!” Nah, kalau seseorang diperintahkan membaca, bukankah berarti perlu ada sesuatu yang tertulis? Berarti berbarengan dengan perintah membaca itu, terkandung juga perintah untuk rajin menulis.

Saya memutuskan jalan hidup saya saat kelas 2 SMA: menjadi ibu rumah tangga. Lagi-lagi, lucu kali, ya? Di saat hampir semua kawan saya pusing mau kuliah di mana, saya malah mikir mau jadi ibu! Simpel saja alasan saya, apapun yang saya lakoni di dunia kuliah, ujung-ujungnya, saya ingin jadi ibu. Dan saya tak mau menjadikan dunia ibu saya sebagai dunia kedua. Karenanya, lebih baik saya persiapkan baik-baik sedini mungkin. Jadi, ngapain kuliah? Lakoni aja langsung.

Soal belajar, saya percaya belajar itu tidak harus di bangku kuliah. Waktu SMA malah sempat kecewa melihat sarjana-sarjana yang sepertinya hanya menyelesaikan studinya hanya karena kewajiban dari orangtua atau tuntutan lingkungan. Akhirnya mereka kerja di bidang yang tak sesuai dengan apa yang mereka dalami saat kuliah, atau bahkan tidak mengamalkan ilmunya secara optimal, hingga akhirnya menguap begitu saja.

Sering saya temukan orang yang ketika saya minta penjelasannya tentang sesuatu hal yang beririsan dengan disiplin ilmu yang ia geluti di masa kuliah, jawabnya, “Sudah lupa. Ah, itukan pelajaran di kuliah dulu.”

Setamat SMA, saya menikah dan ikut suami yang saat itu sedang belajar di Jepang. Akhirnya, lumayan lama juga kami lewatkan umur di sana. Saya 13 tahun, suami 16 tahun. Berangkat dari nasehat untuk rajin menulis itu, saya memang saban hari menuangkan pikiran saya di blog, tentang kejadian sehari-hari. Sebenarnya itu juga karena dipicu keadaan di Jepang di mana komunikasi dengan teman-teman biasanya lewat internet. Ditambah, kenalan yang bisa diajak bergaul langsung di dunia nyata, tidak banyak. Hampir tiap pagi saya merutinkan duduk di depan komputer menulis jurnal. Isinya sih tidak penting, cuma kejadian sehari-hari.

Eh, teman-teman yang baca blog mendorong saya untuk mengirimkannya ke penerbit. Iseng-iseng saya turuti saran mereka, dan jadilah sebuah buku berisi cerita-cerita pengalaman tinggal di Jepang. Saya menyebutnya cuma kumpulan cerita curhat, yang tidak terlalu penting dibaca orang banyak. Malu juga sebenarnya. Dan berharap kelak saya bisa menulis yang lebih ‘bermutu’ dari itu.

Pernah membuat situs yang kabarnya jadi situs berita Citizen Journalism pertama di Indonesia, www.panyingkul.com (tapi kayaknya sekarang sudah gak bisa diakses –maafkan).  Sesekali nulis di media, kalau lagi pengen.

Suka juga memotret, meski sampai sekarang belum kesampaian punya DSLR atau yang lebih canggih dari itu. Mengandalkan kamera saku, ternyata tidak terlalu jelek juga. Saya pikir memotret itu sangat tergantung pada sudut pengambilan dan timing-nya. Secanggih apapun kameranya, kalau dua hal ini tidak ‘tertangkap’ dengan baik, hasil fotonya juga tidak bisa seberapa hidup dan ‘berbicara’.

### Bambu Apus, Januari 2013