Statistik

Online: 0
Visits today: 0
Total visits: 39925

Rapi dan Indah, Fitrah Manusia

قهوة مع خبز

Selagi mereka belajar di tempat favorit belajar sekeluarga: meja makan, wangi kopi mulai menyerebak ke seluruh rumah. Kopi dituangkan ke dalam cangkir putih dan alas piring putih. Sebagai pendamping, satu helai roti gandum beroleskan madu royal jeli mengambil tempat di pinggiran piring tatakan.

Si Bungsu mengeluarkan gumaman ketika kopi dan roti tersebut dihidangkan di depan Ayah.

“Kenapa?” tanya saya, mengira dia juga ingin. Tadi sebelum shalat subuh dia bilang mau

Selengkapnya…

Kontemplasi

Yuk Berhenti, Main HP Sambil Jalan

Sudah dua pekan sejak kepulangan dari safar jauh dari tanah air. Namun, revisi untuk persiapan sidang lanjutan belum juga tersentuh secara signifikan. Meski begitu, saya tak suka menyebutnya lalai. Karena jika berkontemplasi, ada hal-hal signifikan yang akan berpengaruh pada kualitas penyelesaian studi yang sudah tercapai dalam dua pekan ini. Alhamdulillah.

Pertama, sudah ikut tes kemampuan bahasa asing, dan hasilnya, memenuhi syarat untuk dijadikan dokumen pelengkap maju sidang lanjutan.


Kedua,

Selengkapnya…

Karena Rumah Tangga Bukan Soal Rasa (Semata)

Akhir-akhir ini, diskusi rumah tangga lebih intens bersama the ready-to fly-birds.

“Mama, mengapa sepertinya sangat selektif soal jodoh?”

“Karena rumah tangga bukan soal rasa saja, Nak.”

“Mama dan Ayah dulu bagaimana?”

“Kesadaran akan tanggung jawab lebih duluan hadir daripada rasa, Nak.”

“Apakah rasa yang hadir sebelum tanggung jawab, tidak baik?”

“Bukan pasti tidak baik, tapi itu bisa dipastikan akan  menimbulkan bias dalam melihat dan memetakan masalah. Rasa itu terlalu menguasai hingga menjadi

Selengkapnya…

Tada, Natsukashiku Omotte Imasu

As the children are about to fly

I miss the days we were discussing

The way ants run and greet each other

The smell of just born green leaves

The sound of pachu-pachu rain puddle

F2: Fase Baru

مكتبة جامعة ابني

Awal Oktober 2019, Si Tengah melanjutkan fase perjalanan hidupnya sebagai pelajar tak berseragam di Jepang. Daftar ke lima royal universitas di sana, diterima di satu dari lima univ tersebut. Si Tengah sempat kecewa. Merasa gagal. Tapi selalu kami yakinkan agar jangan terlalu mematok mana tempat yang bisa mengantarkan kesuksesan dan mana yang tidak. Apapun itu, in syaa Allah, telah menjadi skenario Allah ta’ala yang terbaik.
Beberapa hari yang lalu, Si Tengah memotret tiga buah buku,

Selengkapnya…

Tengah Jalan

"…this world…"

Ketika kita sampai di tengah perjalanan, kawan,

Bukankah yang tiada menjadi ada,

dan yang ada menjadi tiada?

Pertapaan

أخذ صورة الحياة

Kawan, pertapaan ini, mulai membuat aku merasa jenuh.

Tapi, ah, sudahlah. Aku tahu apa yang akan kau katakan:

Saigo made ni akiramenaide kudasai.

Bukan? Bukan itu? Ah, aku tahu. Kamu mau bilang…

Laa tai-asu min …

Baiklah, aku takkan menyerah.

Meski perjalanan selanjutnya dengan mengais tiap ranting

Dan daun yang tak lagi bisa kutulis sesuatu di atasnya

Memenuhi janjiku, padamu, dulu.

Kembali

silence is living

Begitu banyak sudah satuan waktu berlalu, kawan,

Tak kembali aku padamu,

Namun ceritaku tetap kujilid rapi, untukmu.

Pada waktunya langkahku akan tiba di titik itu.

Di sana. Di tempat kita bermain sembunyi-cari.

Di tempat kita mengeja langkah, tertawa dan menangis,

dalam diam, tanpa cerita.

#SuatuMalamKetikaSemangatHarusKembali

Partner Belajar

MyDreamVehicle

Si Tengah pulang dan seperti biasa membawa cerita menarik tentang sekolahnya. Ini adalah permulaan ajaran baru. Itu berarti, teman-teman kelasnya pun baru. Karena setiap kenaikan kelas, anggota satu kelas akan dirombak. Lucunya, dari cerita-ceritanya selama ini, kelas 10 dan kelas 11 dikenangnya sebagai kelas yang kompak.

Kali ini, Si Tengah cerita tentang bagaimana teman-temannya sepakat membuat partner belajar. Yang malas hendaknya memilih partner yang galak dan rajin. Lalu masing-masing menetapkan satu

Selengkapnya…

[Awan dan Burung Kecil] Anugrah Milikku

Awan melayang pelan, menjaga beban-bebannya agar tak pecah membasahi bumi. Karena, burung kecil mungkin akan mengira ia menangis. Meski duka itu sudah begitu menyakitkan dan ingin ia muntahkan. Awan terus bergerak pelan, memberi keteduhan penduduk bumi, sambil mencari-cari siluet burung kecil. “Kau di mana, teman kecilku?”

Burung kecil masih sibuk mengukir dedaunan dengan pena ranting-ranting patah. Gemerlap embun di bawahnya menjadi lampion yang menemaninya, memberi semangat di kala ia tak mengerti kata-kata yang ia torehkan sendiri.

Selengkapnya…

Page 2 of 20«12345»1020...Last »